Pembangunan Perkebunan Untuk Ekonomi Lokal
Posted on 11. Jan, 2009 by admin in Pembangunan
Salah satu tujuan dari pembangunan perkebunan adalah untuk meningkatkan produksi dan memperbaiki mutu basil, meningkatkan pendapatan, memperbesar nilai ekspor, mendukung industri, menciptakan dan memperluas kesempatan kerja, serta pemerataan pembangunan.
Ada tiga asas yang menjadi acuan dalam pembangunan perkebunan yang mendasari kebijakan pembangunan dalam lingkungan ekonomi dan pembangunan nasional, yaitu (1) Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan bidang perkebunan bagi pendapatan nasional, (2) Memperluas lapangan kerja, (3) Memelihara kekayaan dan kelestarian alam dan meningkatkan kesuburan sumberdaya alam.
Pembangunan subsektor perkebunan komoditas teh mengalami perkembangan yang semakin pesat dan besar dan diharapkan dapat meningkatkan pemenuhan produksi, kebutuhan ekspor yang berdampak pads peningkatan pendapatan petani, ekonomi lokal, pembangunan perdesaan, dan timbulnya multiplier effect secara sektoral maupun spasial baik nasional, regional maupun lokal.
Dengan demikian, maka pengembangan komoditas teh ke arah agroindustri seharusnya memberikan dampak yang positif bagi perkembangan sektor dan wilayah, khususnya pembangunan ekonomi lokal. Secara historis dan realitasnya menunjukkan bahwa di wilayah perkebunan teh cenderung terjadi ketimpangan kemajuan pembangunan, baik antara perkebunan rakyat, swasta, dan perkebunan negara.
Ada indikasi yang menunjukkan bahwa wilayah sentra produksi perkebunan mengalami keterlambatan dalam pembangunannya dan fenomena terjadinya leakages wilayah, dengan demikian kemajuan usaha perkebunan teh belum diikuti dengan perkembangan pembangunan lokalnya.
Model perkebunan teh yang ada (existing) menunjukkan perkebunan swasta dan negara (PTPN) melakukan usaha secara terintegrasi, sedangkan perkebunan rakyat secara individu dan kelompok usaha bersama yang relatif gurem dan tertinggal. Pada dasarnya pembangunan ekonomi lokal merupakan pendekatan pembangunan yang berupaya mendorong tumbuh dan berkembangnya wirausahaan lokal, partisipasi masyarakat lokal, peran serta secara aktif pihak swasta, masyarakat dan pemerintah daerah dalam menentukan keputusan pembangunan lokalnya.
Memahami model perkebunan teh yang ada (existing) dan ada juga model simulasi (plantation dan contract fanning). Perbandingan model plantation dan contract farming dengan model existing ditujukan untuk memperoleh gambaran dampak dan tingkat keefektifan untuk mendorong pembangunan ekonomi lokal.
Untuk model plantation sangat efektif mendorong pembangunan ekonomi lokal manakala perkebunan perkebunan swasta, PTPN, dan perkebunan rakyat dalam bentuk usaha perkebunan yang kooperatif melakukan sistem pengusahaan plantation yang didasarkan atas prinsip pengusahaan perkebunan yang terintegrasi dalam manajemen, produksi, pengolahan, pemasaran, serta memperhatikan prinsip skala usaha, efisiensi, dan optimalisasi basil usahanya. Model plantation mampu mengoptimalkan pengembangan wilayah dan mendorong ekonomi local.
Ada implikasi lain seperti koperasi pada perkebunan rakyat yang dibentuk bukan hanya pembentukan koperasi sebagai lembaga kumpulan usaha perkebunan rakyat, namun merupakan sistem pengusahaan perkebunan yang berbentuk plantation, dimana faktor skala usaha, rasionalitas dan efisiensi usaha menjadi pertimbangan dan ukuran kegiatan usahanya , di samping fungsinya sebagai kelembagaan yang meningkatkan kemampuan petani perkebunan teh rakyat sebagai anggotanya.
Model perkebunan contract farming kurang efektif dibandingkan dengan model plantation, tetapi cukup efektif dibandingkan dengan model existing untuk memperbaiki keadaan pembangunan ekonomi lokal. Berdasarkan basil studi juga menunjukkan bahwa model contract farming yang efektif adalah Model Marketing Contract Farming antara perkebunan rakyat dengan PTPN.
Perlunya pemberdayaan masyarakat dan institusi lokal melalui koperasi dengan pemahaman dan kerangka kerja usaha yang berlandaskan pada efisiensi, rasionalitas, dan dalam skala usaha basal- di kawasan perkebunan rakyat. Hal ini penting mengingat model koperasi yang demikian memiliki keunggulan komparatif dalam menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan daerah, dan akan mendorong pembangunan ekonomi lokal.
Untuk itu, langkah pendidikan, penyuluhan mengenai Cooperative membership education kepada berbagai lapisan masyarakat dan aktor pengembangan perkebunan tab, dan inkubasi kewirausahaan dapat dijadikan langkah awal membangun model koperasi yang mandiri dalam usaha perkebunan teh. Keadaan ini akan mendukung berkembangnya agroindustri teh yang kuat sehingga mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan ekonomi lokal secara mandiri.

Komentar Terbaru