Cak Nun: Siapa Yang Harus Di Berdayakan di Indonesia

04.55
pemberdayaan lahir dari kebaikan yang sejati, dari dalam nurani orang yang ikhsan untuk melakukan pemberdayaan”. Saya sudah mendengarkan Insyaallah dengan seksama paparan dari bapak Robert Lawang, saya menyatakan seratus persen setuju karena saya tidak mau membikin perkara baru. Demikian juga dari hasil diskusi dengan mas Gunawan Sumodiningrat, saya juga menyatakan seratus persen setuju. Cuma karena tema dari seminar ini ada kata reinventing: menemukan kembali, ada proses untuk ragu dan mempertanyakan kembali untuk mendapatkan formula dan keyakinan baru terhadap pemberdayaan. Maka saya mohon izin untuk berusaha menempatan diri berposisi “antagonis”. Ibarat seorang petinju maka saya ini sebagai seorang sparing partner, jadi saya boleh memukul dan saya juga bisa dipukul balik. Menjadi sparing partner dalam forum, bukan berarti saya melawan beliau berdua.

Saya tidak ikut campur, karena merasa tidak faham sama sekali terhadap Indonesia, saya hanya faham manusia yang ada disekitar saya saja. Mengenai Indonesia “saya tidak faham”, karena secara epistemologi saja Indonesia ini sudah batal, karena kondisinya begini kok disebut negara, enggaklah, masak begitu disebut presiden, begitu kok disebut pemerintah. Karena saya berposisi “antagonis”, maka saya agak melawan biar beliau marah sedikit-sedikit, biar ada pertengkaran intelektual, biar ada dialektika teori, wacana dan seterusnya. Maka dari proses itulah reinventing akan bisa coba kita temukan. Selain itu saya merasa tidak faham karena bukan akademisi, saya kuliah hanya selama empat bulan saja. Kalau dibandingkan dengan mas Gunawan; kalau resminya karena saya tidak lulus kuliah, tidak resminya orang macam beliau butuh waktu enam tahun untuk lulus sarjana ekonomi sedangkan saya cukup empat bulan.

Berangkat dari epistemologi: pemberdayaan, yang diberdayakan adalah masyarakat, dan yang memberdayakan adalah pemerintah, perusahaan, kaum elit, kelas menengah, dll. Mereka yang ditolong oleh rakyat kok mereka mau memberdayakan rakyat. Pemerintah tidak usah memberdayakan rakyat tidak apa-apa, asal jangan ganggu saja. Jangan orang usaha dipalak, dipersulit birokrasinya. Kerjanya pemerintah selama ini adalah membikin rakyat semakin tidak berdaya.
Saya merasa capek karena menjadi keranjang sampah masalah yang terjadi di indonesia. Sampai-samapai saya punya teori: pemerintah Indonesia korupsi tidak apa-apa asal jangan terlalu banyaklah, nggak membangun nggak apa-apa, nggak punya teori pembangunan tidak apa-apa, asal jangan ganggu orang dagang, jangan merusak orang bertani, polisi jangan njebak-njebak orang untuk setor kasus karena ditarget atasan. Ingatlah kamu diberdayakan oleh rakyat, kamu dibayar oleh rakyat, Kamu tidak bisa membayar rakyat. mobilmu, rumahmu, sehari hari itu dibayar oleh rakyat. Bagaimana mungkin yang dibayar mau memberdayakan yang membayar?

Saya dapat bagian untuk membahas theologinya, ini bisa menyesatkan saya untuk menjadi seorang Kiai, padahal saya sudah menghindar Naudzubillahi min Dzaliq, jangan sampai jadi Kiai. Karena Kiai itu kalo disolo berupa kerbau, saya tidak mau bersaing dengan kerbau di kraton solo tersebut. Dan tadi saya disebut pimpinan Kia Kanjeng, itu lebih menghina lagi, karena Kiai Kanjeng itu nama sebuah gamelan, kalau saya disebut sebagai pimpinan Kiai Kanjeng, maka saya dikira kepala gamelan apa??, ngawur arek-arek iku! Tidak apa saya masih tetap beri hormat.

Selama ini yang kita sebut masyarakat biasanya selalu asumsinya: bukan Pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, bukan kaum intelektual, tapi people. Masyarakat mau tidak mau asal usulnya dari bahasa Arab dari kata syarikah. Musyarokah adalah: perundingan dan kesepakatan untuk menyusun pekerjaan bersama, sedang pelaku musyawarah disebut masyarakat. Jadi sebenarnya seluruh bangsa indonesia ini adalah pelaku untuk menentukan presidennya, DPRnya, ini judikatifnya.

Kalau kata rakyat tidak bersifat kuantitatif tapi bersifat kualitatif, karena kata rakyat berasal dari kata rukyah, mohon maaf sebelumnya karena agak NU sedikit. Rukyah itu artinya kepemimpinan. Maka cocok dalam demokrasi karena dalam demokrasi yang memimpin itu rakyat, kedaulatan ada pada rakyat, kemudian dipinjamkan kepada presiden SBY selama 5 tahun. Karena dia sangat tidak berdaya, maka dia dipinjami kekuatan oleh rakyat. Karena dia adalah orang yang paling tidak berdaya, sama dirinya sendiri saja tidak berdaya, sama ambisi-ambisinya, resiko dan perilakunya selama tujuh tahun juga tidak berdaya. Maka dialah yang seharusnya kita berdayakan saat ini.

Kalau rakyat tidak ada negara tidak masalah, mereka akan bisa mengatur diri sendiri, melindungi diri sendiri. Sekarang ini semua jadi ancaman, bupati jadi ancaman, camat jadi ancaman, polisi jadi ancaman, kepala dinas jadi ancaman, pajak jadi ancaman. Rakyat Indonesia meskipun tidak berdaya sebenarnya sangat berdaya, rakyat Indonesia adalah orang yang berani hidup melebihi pejabat dan pemimpinnya. Kalau pemimpinnya nggak berani tidak menjadi pemimpin.

Takut tidak menjadi Bupati, kalau bisa dipilih dua kali, Kalau tidak boleh lagi ya istrinya, kalau nggak boleh ya keponakannya, besannya, ataua siapa yang lainnya. Karena perilaku demikian maka menunjukkan kalau meraka sangat tidak berdaya. Kalau rakyat tidak berdaya mereka akan mengamankan dirinya sendiri dari ancaman yang bermacam-macam. Takut kepada polisi karena kalau lapor ayam hilang maka mereka harus membayar kambing. Maka rakyat sangat berdaya didalam proses yang tidak memberdayakan dia. Saya sengaja ganggu-ganggu saja, jangan marah ya!.

Kalau ummat dari kata ummun; ibu, jadi orang yang berkumpul karena seperibuan nilai, ummat kristiani, karena substansi yang membuat mereka berkumpul itu nilai. Dalam Islam ibu itu tiga kali lebih mulia dari bapak, makanya saya jadi bapak saja biar tidak terlalu mulia. Bahkan sifat bapak terkandung pada ibu, sifat ibu tidak terkandung dalam bapak. Kalau kita akal-akalan cari landasan theologinya maka kata Tuhan sebagai Supreme Ilaah hurufnya selalu berdiri, kalau Tuhan mendekatkan diri pada hambanya sebagai Robbi itu maka ra’ nya membungkuk ba’ nya menelentang. Ibu-ibu mohon maaf dosanya banyak tapi kecil-kecil, kalau laki-laki sedikit tapi besar-besar.

Pemberdayaan kalau di perusahaan bisa berwujud CSR, ini menarik saya dan telah mempelajari asal usulnya dari mana, atas inisiatif dari mana. Tadi saya iseng-seng menuliskan diperjalanan, inikan social responsibility (tanggung jawab sosial), maka dari ribuan kebaikan saya ambil sebanyak 10 kebaikan, supaya tahu pemberdayaan itu dari kebaikan yang mana.

  1. Kebaikan yang di anjurkan (universal), masih cair, belum diformulasikan, diperintahkan. Dalam Al-Quran; yadduuna ilaa al-khoir.
  2. Kebaikan yang sudah diarifi (ma’ruf), sudah menjadi pasal-pasal hukum, berupa undang-undang, peraturan. Maka dia harus sudah pada posisi diperintahkan.
  3. Kebaikan yang dipaksakan, (hukum/Hikmah) misalnya masuk penjara, ini baik atau buruk? Kalau ragu-ragu kenapa bikin negara ada penjara? Tuhan bikin neraka itu baik atau buruk? Baik!!! Kalau ada yang mengeluh Tuhan tidak adil? Lho yang berhak menyuruh Tuhan itu adil itu siapa, nuntut adil itu berlaku apabila pada orang yang sama-sama punya saham, punya sama-sama punya akses, ada kerja sama sehingga punya hak. Jangankan bikin tsunami di Jepang, seluruh Indonesia dibenamkan ke pusat bumi itu hak Dia. Bahkan bumi ini hancurkan karena dibenturkan dengan bulan, itu juga menjadi hak Tuhan. Jadi Tuhan tidak wajib adil, tetapi Tuhan sangat adil, Cuma adilnya Tuhan bukan karena wajib adil tapi karena dia cinta pada kamu maka Tuhan itu berbuat adil. Tapi kamu nggak punya hak atas keadilan Tuhan.
  4. Kebaikan yang dibatalkan (riya), orang yang berbuat baik ditampak-tampakkan, misal Amythas peduli Merapi, itu batal kebaikkannya.
  5. Kebaikan yang dimulyakan/disembunyikan (kharomah), kata nabi; kalau engkau memberi dengan tangan kanan, tangan kiri nggak perlu tahu.
  6. Kebaikan yang dibatasi, harus jelas kebaikan itu vertikal-horisontal, Ar-rohman- Ar-rahim, arrohman itu kebaikan yang meluas, sedangkan Arrahim itu kebaikan yang mendalam dan meninggi.
  7. Kebaikan yang dikhususkan, contoh Assalamualaikum, Wr. Wb. Bermaksud yang dituju dirahmati oleh Allah. Kalau di Indonesia masih berlaku Assalamualaikum, Wr. Wa adzabu. Jadi rahmatnya Tuhan belum menjadi berkah bagi bangsa Indonesia. Kalau Rahmat itu menyebar bagi siapa saaja secara acak, jadi ada korupsi, beli soto masih enak rasanya. Kalau anda memakai uang APBD untuk melacur tetap enak rasanya melacur, itu namanya rahmat. Tapi kalau barokah lain lagi.
  8. Kebaikan yang diperhitungkan agar maksimal kadarnya, kebaikan yang disimulasikan secara sosial. Pemberdayaan, seperti yang dilakukan oleh LSM yang melakukan pemberdayaan masyarakat, sementara masyarakat mecari uang sendiri, tapi LSM nya mendapat uang dari luar negeri. Begitu juga presiden, kalau saya ketemu bukannya saya menunduk tapi harusnya dia yang menunduk kepada rakyat, Sebab bakulnya rakyat ada diatas kepalanya, jadi kalau tidak hati-hati bakul jatuh (wakul ngelempang segone dadi sak latar).
  9. Kebaikan Sejati, orang-orang yang punya ikhsan, lahir dari nuranimu untuk berbuat, seperti shodaqoh
  10. Kebaikan yang dirahasiakan(biir), kalau obyeknya dinamakan mabrur, ada rahasia dipuncak cinta hubungan hamba dengan Tuhannnya. “Mabrur itu pelengkap penderita. Kata dasarnya adalah birr (kebaikan). Artinya, mabrur adalah orang yang diberi kebaikan tertentu,”. Pemberdayaan harapannya lahir dari kebaikan yang sejati, dari dalam nurani orang-orang yang punya ikhsan untuk berbuat dan melakukan pemberdayaan.

Melihat realitas bangsa sekarang jangan sedih jangan sedih, orang yang bercinta akan mengalami titik yang paling konyol dalam hidupnya. Saat ini merupakan titik paling konyol dari bangsa Indonesia, namun adalah titik terakhir menuju gerbang untuk menyinari dunia. Amerika akan bangkrut, Jepang sudah begitu, Afganistan, Irak, Libya semua diambili kilang-kilang minyaknya. Kita tenang saja, biarkan pertamina gitu-gitu saja biarin. Kita akan menemukan energi baru,kita akan dan sudah menemukan energi baru. Aku lihat didaerah selatan sudah bikin perusahaan untuk mengkudeta sang penemu menyerahkan copyright,di yogya dan kediri nggak mau akhirnya masuk bui 2 tahun. Dia akhirnya menyerah kepadaku, aku hanya bilang” kamu ini kalau perang diam-diam tapi kau sudah kalah perang baru ke aku.

Saya sangat cinta Indonesia karenanya saya tidak tega, buat saya pemberdayaan rakyat dari rohani dan kemanusiaan. Pokoknya orang besarkan hatimu, miskin nggak apa-apa petitha petithi!!, barang siapa miskin silahkan sombong , kalau sudah kaya tolong rendah hati, itu pembagian tugas. Masak sudah kaya sombong, sudah miskin minder, goblok temen koen.

Malaysia enam tahun lagi kalau berani-berani sama kita, kita nggak usah akan kirim TKI karena masih banyak penganggur yang mau mati. Ini kalau saya teruskan maka jadi pidato kenegaraan. Ini akhirnya membuat anda tertawa, saya tidak provokasi, harus ada atmosfir keyakinan bahwa kita ini berdaya, sesungguhnya yang membikin kita tidak berdaya, karena kita hanya bertengkar diantara kita. Sesunguhnya kita ini sangat berdaya, alamnya kaya, manusianya paling istimewa dimuka bumi.

Pelajari antropologi, pelajari homo erectus, homo sapiens, pelajari gen-gen dalam peradaban, anda adalah manusia paling istimewa didunia. Orang Indonesia itu boleh salah tapi nggak ada yang bisa mengalahkan bonek. Jelas nggak punya kerjaan berani kawin, istrinya hamil belum punya kerjaan malah kredit motor, siapa itu kalau bukan orang Indonesia. Saya tanya bagaimana akan menghidupi istrimu?, wis Bismillah cak...lho!!! dengan Bismilah saja sudah diatas dari garis kemiskinan.

Lihat itu bencana di Jepang, orang pada nangis!!, kalo kita lihat ada bencana yang di Yogya, di Aceh setelah dua jam saja kelihatan ada siaran TV sudah melambaikan tangan sambil ketawa. Kurang bagaimana orang Indonesia hatinya itu sangat kuat , sudah tahu korupsi sangat banyak malah senyum-senyum di depan orang banyak. Itu mental yang luar biasa orang Indonesia, jadi malaikat saja mampu apalagi jadi setan.

Semboyannya mas Gunawan Manunggaling Kawulo Kalian Gusti, Ing Ngarso Sung Tulodho Tut Wuri Handayani di departemennya akan diketawakan, Wong urusane sekarang cuma proyek, proyek, proyek, Sekarang semua sudah dikapitalisme, masjid, semua pertengkaran itu kapitalisme, apa itu Ahmmadiyah, NU, .. itu nothing to do it Agama, itu semua Kapitalisme....... allahu akbar.......Allahu Akbar juga sudah dikapitalkan. Wong ngajur kepala orang kok Allahu Akbar, ....malaikat jibril: “ngene..yo opo arek-arek???”.

Untuk yang perusahaan memang harus pemberdayaan, dan mereka sendiri mengakui ini sosial responsibility itu ikhsan namanya sebuah kemuliaan yang tinggi ,itu lebih dari sholat, kalau lahir dari nuraninya tidak karena diperintah oleh Tuhan maka nilainya sangat tinggi. Kalau sepulang dari sini ada kecelakaan, anda boleh menolong meski korbannya meski menggelepar-gelepar. Polisi tidak akan menangkap anda. Hukum sangat rendah karena tidak mengikat manusia pada posisi itu, namun anda akan sangat rendah dimata moral.

CSR itu mudah-mudahan lahir dari nuraninya, kalo ya maka seminar ini patut kita puji karena nagapain perusahaan mengadakan kegiatan seperti ini kalau bukan karena nuraninya. Urusan perusahaan kan kapitalisme, Kapitalisme itu terikat oleh etikanya sendiri, tidak terikat norma agama etika kemanusiaan, tapi Amythas membuka pintu bahwa etika itu adalah universal, tidak bisa berdiri sendiri: etika ekonomi, etika politik, dll.
Untuk para pemberdaya-pemberdaya ini yang saya binggung itu, sampean ini memprogram pemberdayaan itu berangkat dari siapa. Sampean memprogram atau kalian sudah dengerin apa yang dibutuhkan masyarakat apa belum. Misalnya saya akan mentraktir mas Gun di MC Donald, mas gun mau makan apa? Saya mau makan lontong sayur. Nah selama ini program pemberdayaan itu kurang berangkat dari kebutuhan rakyat.

Dompet Dhuafa, Badan zakat, Badan Amil itu kaya raya, tapi kalau ada pengemis minta uang seratus saja tidak bisa memberi. Karena tidak ada prosentase untuk spontanitas penderitaan yang nyata pada masyarakat, jadi masyarakat itu bagian dari kemewahan dia untuk beramal, bukan bagian dia berkurban untuk masyarakat. Jadi larinya mereka bukan ke CSR tapi larinya kekita-kita. Saya itu sudah membiayai apa saja, mulai urusan orang kawin, sakit, mau melahirkan, dll kadang tidak kenal tapi datang dan meminta biaya rumah sakit untuk melahirkan. Saya dan istri kerumah sakit, tanya namanya, membayarnya lalu pergi dan nggak pernah tahu siapa orang tersebut.

Untuk program pemberdayaan dengan konsep dari perusahaan itu 70% lah, sisanya yang 30% untuk uang standby untuk keperluan yang mendesak. Kalau anda pegang uang APBD ada pengemis minta uang 100 rupiah pasti diambilkan dari uang pribadi, artinya kesulitan untuk menggunakan uang APBD, lho ini negara cap apa kalo kondisinya begini ini?. Yang kita harus cari adalah invesi-invesi formulatif dari pemberdayaan, dan jangan hanya terpaku pada bidang ekonomi saja.

Saya pernah membagi uang 180 juta di padang bulan, yang sebelumnya saya suruh daftar dahulu. Karena peminatnya Jumlahnya saya turunkan karena pendaftarnya membludak dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan ada seorang ibu yang hanya mendapat bagian Rp. 5000,- Dia datang dari Trenggalek ke Jombang, bawa RT-nya supaya yakin bahwa dia benar-benar miskin. - tapi hanya dapat bagian Rp. 5000,-. Dia menangis, tapi satu minggu berikutnya dia datang lagi membawa ketela satu becak. Artinya berdaya dan tidak berdaya jangan hanya dilihat ekonominya, orang kecil itu lebih berdaya mental dan hatinya daripada kita.

Contoh lain, adalah seorang Ibu Tua (89 tahun) penjual gorengan kerak nasi dengan harga Rp. 5000,, oleh teman saya yang sedang main kerumah saya, si Ibu tua tadi diberi uang Rp. 100.000,- untuk satu bungkusnya. Lalu apa yang terjadi? Si Ibu Tua tersebut ternyata marah “ mas, saya ini tidak ngemis, saya ini bekerja, ini harganya Rp. 5000,-. Lebih berdaya mana mbok tadi dengan para menteri yang mengemis-ngemis jabatan.

(Disarikan dari Seminar yang diselenggarakan PT. Amythas, di Jakarta, Maret 2011)

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar